Sinergi Adat dan Iman, Acara Adat ‘Wee Mbaru’ di Gereja St. Kristoforus Waning Berlangsung Khidmat

Share :

Waning, 05 Agustus 2026 – Atmosfer kekeluargaan dan kental akan nilai budaya menyelimuti Gereja St. Kristoforus Waning pada 04 Agustus 2026. Sejumlah umat, Tokoh adat  dan tamu undangan berkumpul untuk mengikuti acara adat ‘Wee Mbaru’, sebuah tradisi leluhur yang diintegrasikan secara harmonis dengan perayaan iman Katolik.

Acara ini tidak hanya menjadi momen spiritual bagi umat, tetapi juga menjadi ajang mempererat hubungan antar pemangku kepentingan di wilayah Paroki Waning. Kehadiran berbagai elemen masyarakat menunjukkan dukungan yang kuat terhadap pelestarian budaya lokal dalam bingkai iman.

Pantauan di lokasi menunjukkan deretan tamu penting yang hadir memadati area gereja. Tampak hadir seluruh Kepala Desa se-Paroki Waning, yang menunjukkan kesatuan dan dukungan pemerintah desa atas  kegiatan keagamaan dan adat. Selain itu, barisan Tokoh-tokoh Adat (Tua Adat) mengenakan pakaian adat lengkap, memberikan nuansa sakral dan penegasan identitas budaya yang kuat dalam acara tersebut.

Dukungan dari sektor pendidikan dan kesehatan pun terlihat nyata dengan kehadiran perwakilan lembaga pendidikan mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA di wilayah Waning, serta Kepala Puskesmas Waning beserta jajarannya. Keterlibatan institusi-institusi ini menegaskan bahwa acara adat ‘Wee Mbaru’ memiliki makna sosial yang luas bagi seluruh lapisan masyarakat.

Tak ketinggalan, seluruh jajaran Dewan Stasi dari berbagai wilayah di Paroki Waning turut hadir, menunjukkan soliditas organisasi gereja dalam mendukung perayaan ini.

Puncak acara ditandai dengan sambutan penuh makna dari Pastor Paroki Waning, Romo Robert. Dalam arahannya, Romo Robert menggarisbawahi pentingnya menghormati tradisi leluhur sembari tetap menempatkan iman akan Yesus Kristus sebagai pusat kehidupan.

“Budaya dan acara adat, seperti ‘Wee’ yang dipersembahkan kepada leluhur ini, adalah warisan luhur yang harus kita jaga,” ujar Romo Robert di hadapan umat. Namun, ia menekankan dimensi spiritual yang lebih dalam bagi umat Kristiani. “Kebaikan dan penghormatan dalam ritus tradisi budaya ini akan menjadi jauh lebih sempurna dan bermakna ketika disatukan dan disempurnakan melalui Perayaan Misa, Melalui Korban Tubuh dan Darah Yesus sendiri,” tegasnya.

Pesan Romo Robert ini sekaligus menjadi penegas komitmen Paroki Waning untuk terus mendorong inkulturasi iman, di mana nilai-nilai luhur budaya lokal dirangkul dan diterangi oleh cahaya Injil.

Rangkaian acara adat ‘Wee’ berjalan dengan tertib dan penuh hikmat, ditutup dengan Makan Malam Bersama. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bagaimana sinergi antara adat, iman, pemerintah, dan lembaga sosial dapat menciptakan harmoni dan kedamaian di tengah masyarakat.

Penulis: Komsos Fransiskus Belaang.

 


Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *